HALO galauers, alhamdulillah dikarenakan respon positif dr para pembaca-yg-dipaksa-baca blog ini, iseng-isengan gua lanjut. Dan oleh karena itu, setelah ini gua bakal lebih gencar memaksa yg lainnya buat baca blog ini, berhati2lah mungkin teman2 atau kerabat anda akan menjadi korban selanjutnya. Waspadalah..
# -___________-
Okey bradsist, kali ini gua pengen ngebahas tentang masalah yg mendasar dalam menjalin sebuah hubungan. Ya, soal kesetiaan. Menurut kalian di jaman modern kaya skg ini, nilai kesetiaan dalam berhubungan tuh masih penting ga sih? Soalnya, seperti yg gua alamin *curcol*, -GUA-, yg notabene adalah seorang penganut paham kalo setia-sangat-penting-dalam-hubungan, pernah ngerasa terkhianati oleh kesetiaan itu sendiri. Emg salah sih, dulu gua mikirnya asal kita setia, pasangan kita bakal setia juga.
Tapi ternyata, kenyataannya ga gitu.. *mulai nyetel musik galau*.
OLEH KARENA ITU, gua ngepost ini biar kalian wahai para manusia2 yg tersesat, khususnya ababil2 yg percaya kalo ga-selingkuh-ga-gaul, dapet pencerahan soal betapa pentingnya setia itu.
Sebenernya ga-setia itu sesuatu yg udh drencanain dr awal ngejalin komitmen hubungan atau emg terjadi tiba2 ketika ada kesempatan sih? Kadang gua suka mikir, mereka -org2 yg ga setia- ini mungkin gatau gmn kepuasan jadi org setia dan dapet pasangan yg setia jg, atau mungkin mereka justru ngerasa dapet kepuasan disaat mereka ga setia?
Tanya kenapa.
Ko jadi galau gini ya? Bodo ah. LANJUT.
Kalo gua pribadi, kesetiaan buat gua adalah sebuah tujuan. Siapa sih yg ga pengen punya pasangan yg setia? Siapa sih yg ga pengen punya pasangan yg awet trus ampe tua? Makanya, walaupun pernah terbukti salah, gua tetep berprinsip : 'buat dapet pasangan yg setia, kita harus terlebih dahulu jd pasangan yg setia.'
Oiya td pas lg ngaskus gua nemu cerita yg mengharu-biru nih, berhubungan ama kesetiaan. Semoga memberi pencerahan.
Cekibrot
"Seorang istri berjuang membantu suaminya yang lumpuh. Suaminya bernama Du Chanyun tersebut adalah seorang guru di kampung Dakou kota Liushan. Sang istri membantu sang suami pergi mengajar dengan cara menggendongnya. Hal ini sudah dia lakuakn selama 17 tahun.
Tahun 1981, setelah lulus SMA, Chanyun yang saat itu berusia 19 tahun memutuskan menjadi seorang guru SD di kampung Dakou. Pria asal kampung Nancao, Provinsi Henan ini adalah seorang guru yang gigih. Selama sepuluh tahun, setiap bulan dia hanya memperoleh gaji guru sebesar 6.5 Yuan RMB (sekitar Rp. 7.000).
Suatu hari, di tahun 1990, bencana datang menimpanya. Saat itu sedang musim panas. Hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Biasanya, di liburan musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang untuk memperbaiki sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup.
Akhirnya pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek. Sayangnya, setelah sembuh malah tubuhnya sudah tidak bisa berdiri lagi. Tubuh sisi kirinya tidak dapat digerakkan. Ia sempat khawatir, bagaimana caranya dia bisa mengajar lagi.
Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Li mengatakan, “Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, saya akan menggendongmu,” demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini.
Menggendong Suami
Sejak itu, Li memikul tanggung jawab keluarga. Setiap hari, ia harus menggendong suaminya menjadi seorang guru dari rumah sampai sekolah yang jaraknya 6 mil.
Sejak 1 September 1990, jadwal hidup Li seperti ini : Setiap hari mulai pagi-pagi, Li Zhengjie bangun menanak nasi, membangunkan 4 anggota keluarganya dan menyiapkan mereka makanan. Setelah makan, ia harus menggendong suaminya berangkat mengajar.
Di sepanjang jalan, Li meraba, merangkak jatuh bangun sampai tiba di sekolah. Di sekolah, Li menempatkan suaminya di kursi lalu menitip pesan ke beberapa murid yang agak besar dan kemudian kembali pulang.
Maklum, di rumah masih ada sawah yang menunggunya untuk dikerjakan. Sejak memikul tanggung jawab mengendong suaminya, ada dua hal yang paling dia takuti yaitu musim panas dan musim dingin.
Hampir Terpeleset ke Sungai
Pada suatu hari di musim panas, saat itu baru saja turun hujan lebat, Li Zhengjie seperti hari biasa menggendong suaminya berangkat. Air sungai menutupi batu injakkan kakinya. Li Zhengjie sudah hati-hati meraba-raba batu pijakan, namun tidak disangka ia tergelincir. Arus sungai yang deras menghanyutkan mereka sampai 10 meter lebih.
Untung tertahan oleh ranting pohon yang melintang di sungai. Setelah lebih kurang setengah jam, ayahnya yang merasa khawatir akhirnya datang mencari, mereka ditarik, anak dan menantunya baru berhasil diselamatkan. Li lolos dari ancaman maut.
Dalam beberapa tahun ini, Li Zhengjie terus menggendong suaminya. Entah sudah berapa kali ia jatuh bangun.
Suatu hari Li Zhengjie punya akal, setiap jatuh dia berusaha duluan menjatuhkan tubuhnya yang kekar menahan batu yang mengganjal. Li Zhengjie telah berjuang membantu suaminya siang dan malam. Ia bekerja keras dan capek. Sang suami, melihat dengan jelas perjuangan istrinya itu. Hati Du Chanyun merasa iba.
Sang Suami Menggugat Cerai
Pada tahun 1993, Du Chanyun memulai rencana buruk agar sang istri meninggalkannya. Ia tak ingin sang istri menderita. Untuk mencapai tujuan ini, dia mengubah karakternya, sengaja ia mencari gara-gara untuk bertengkar. Du Chanyun, mulai memakinya. Tentu saja Li Zhengjie merasa tertekan. Setelah 2 kali ribut besar, mereka sungguh-sungguh akan bercerai.
Di hari perceraian, Li Zhengjie menggendong suaminya naik sepeda menuju ke kantor kelurahan setempat. Semua orang sangat mengenal sepasang suami-istri yang dikenal akrab ini. Begitu melihat tampang keduanya, semua orang makin gembira.
“Saya tidak pernah melihat wanita menggendong suaminya ke lurah minta cerai, kalian pulang saja,” ujar pihak kelurahan.
Setelah keributan minta perceraian tenang kembali, Li Zhengjie hanya mengucapkan sepatah kata pada suaminya.
“Walaupun nanti kamu tidak bisa bangun lagi, saya juga akan menggendong kamu sampai tua.”
Tidak Pernah Sekalipun Bolos Mengajar
Kondisi sekolah tempat Du Chanyun mengajar sangat parah. Meski demikian, kedua pasang suami istri bisa memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak.
Di sekolah itu, pendidikan sangat kurang baik. Tidak ada alat musik dan tidak ada poliklinik. Namun Du Guangyun menggunakan daun membuat irama musik buat anak-anak. Li Zhengjie naik ke gunung mencari obat ramuan, pada musim panas dia memasak obat pendingin buat anak-anak, pada musim dingin masak obat anti flu buat anak-anak.
Di bawah bantuan istri, dalam 17 tahun, hari demi hari, tidak terhalangi oleh angin hujan, tidak pernah bolos satu kali pun.
Suatu hal yang menggembirakan, data yang terkumpul dari kepala sekolah tentang hasil ujian negeri tingkat siswa yang lulus dari sekolah SD tersebut mencapai 100 %.
Tahun lalu ketika ujian masuk perguruan tinggi, ada 4 orang siswa yang dulu pernah diajari dia masuk ke perguruan tinggi, tahun ini ada 4 lagi yang lulus masuk masuk spesialis.
Kini, setiap hari raya Imlek, murid-muridnya sengaja pulang ke kampung menjenguk bapak dan ibu gurunya, hal tersebut menjadi peristiwa yang sangat menggembirakan bagi sepasang suami istri guru ini."
Tuh liat, kesetiaan itu indah kan? Masa sih ga pengen kaya gtu? Ya maksudnya bkn pengen lumpuh dan dgendong2nya, tapi dalam hal menjalin kasih sayang dibalut kesetiaan satu sama lainya.
Setia itu indah kawan..
Oke, semoga posting gua kali ini sukses mendoktrin kalian para pembaca untuk jadi setia, atau mungkin lebih tepatnya jadi-lebih-setia.
Dan kalo yg tetep keukeuh mikir ga-selingkuh-ga-gaul, ingat, karma itu sesuatu yg tidak mustahil terjadi di dunia..
-_____________- ##
namanya juga iseng-isengan
Minggu, 19 Juni 2011
Minggu, 05 Juni 2011
M-I-R-I-S
Okeeeee biar blog ini isinya ga cuma osam (baca:obrolan sampah), gua mau share peristiwa yg menurut gua miris bgt ni. Apalagi d beritanya bawa2 nama Bogor, kota asal gua, kota tempat gua tumbuh menjadi pria dewasa yg tampan, kota tempat gua dididik menjadi manusia-yg-ga-tau-tujuan-hidupnya kaya skg, MIRIS KAN??? #apaan sih?
Ga usah dipikirin, mending siapin tisu buat ngelap ingus takut2 ada yg nangis kejer abis baca berita ini.
Cekidot
" pejabat jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah
penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan jakarta – bogor pun geger minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di kampung kramat, bogor dengan menggunakan jasa krl. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke rscm untuk diautopsi.
Di rscm, supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, supriono menggendong khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke rscm dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari rscm. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas rscm mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, supriono harus berjalan kaki menggendong mayat khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke bogor.
Para pedagang di rscm juga memberikan air minum kemasan untuk bekal supriono dan muriski di perjalanan.
Psikolog sartono mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki ktp atau kk atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa indonesia, ujarnya.
Gmn?
Sedih kan?
Saran dr gua, yg punya cita2 jd pemulung mending cari profesi lain dr skg.. -__________- ##
Ga usah dipikirin, mending siapin tisu buat ngelap ingus takut2 ada yg nangis kejer abis baca berita ini.
Cekidot
" pejabat jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah
penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan jakarta – bogor pun geger minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di kampung kramat, bogor dengan menggunakan jasa krl. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke rscm untuk diautopsi.
Di rscm, supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, supriono menggendong khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke rscm dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari rscm. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas rscm mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, supriono harus berjalan kaki menggendong mayat khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke bogor.
Para pedagang di rscm juga memberikan air minum kemasan untuk bekal supriono dan muriski di perjalanan.
Psikolog sartono mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki ktp atau kk atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa indonesia, ujarnya.
Gmn?
Sedih kan?
Saran dr gua, yg punya cita2 jd pemulung mending cari profesi lain dr skg.. -__________- ##
Ini apaan sih?
Ini apaan sih? Bakal ada apa disini? Penting gak sih?
-> Itu dia masalahnya, gua juga gatau knp gua bisa jadi bikin gini2an. Mungkin kalo bukan krn tugas dari dosen ga akan kejadian ni gua bikin gini2an. Oleh krn itu, mari kita bersama2 dgn segala kerendahan hati dan kepala yg dingin nyari jawaban dr pertanyaan2 diatas.
Terus?
-> Sekali lagi gua jelasin, GUA JUGA GAK NGERTI. Gua baru kali ini bergelut ama hal2 kaya ginian. Yang jelas, krn ke-tidak-tahu-an gua, blog ini isinya bakal macem2 campur aduk. Namanya jg iseng-isengan.
Terus apa pengaruhnya ama hidup gua?
-> GA ADA. Mau lu baca ato engga dunia bakal tetep muter, harga BBM ga bakal turun, dan 7icon bakal tetep menggoyang dunia.
Oh gitu.
-> #antiklimaks -________________________-
-> Itu dia masalahnya, gua juga gatau knp gua bisa jadi bikin gini2an. Mungkin kalo bukan krn tugas dari dosen ga akan kejadian ni gua bikin gini2an. Oleh krn itu, mari kita bersama2 dgn segala kerendahan hati dan kepala yg dingin nyari jawaban dr pertanyaan2 diatas.
Terus?
-> Sekali lagi gua jelasin, GUA JUGA GAK NGERTI. Gua baru kali ini bergelut ama hal2 kaya ginian. Yang jelas, krn ke-tidak-tahu-an gua, blog ini isinya bakal macem2 campur aduk. Namanya jg iseng-isengan.
Terus apa pengaruhnya ama hidup gua?
-> GA ADA. Mau lu baca ato engga dunia bakal tetep muter, harga BBM ga bakal turun, dan 7icon bakal tetep menggoyang dunia.
Oh gitu.
-> #antiklimaks -________________________-
Langganan:
Komentar (Atom)
